Home >> PROFIL USAHA (DWI MENGOLAH KULIT IKAN PARI) - WARTA

PROFIL USAHA (DWI MENGOLAH KULIT IKAN PARI)

warta oleh : Anwar Hidayat - kategori : Umum
dicetak: 2009-07-11 07:58:28 - dibaca : 2358 kali



Sumber :
Kompas Sabtu, Eny Prihtiyani, 11 Juli 2009 | 03:46 WIB
http://koran.kompas.com/read/xml/2009/07/11/03464339/dwi.mengolah.kulit.ikan.pari

PROFIL USAHA
Dwi Mengolah Kulit Ikan Pari


Tak pernah terpikirkan oleh Dwi Lestari (28) kalau acara piknik dengan pacarnya ke Cilacap, Jawa Tengah, ternyata berbuah manis. Di sana ia menyaksikan begitu banyak ikan pari. Di kepalanya langsung terlintas ide membuka usaha penyamakan kulit ikan pari untuk bahan baku kerajinan.

Ide membuka usaha ini lumrah bagi Dwi sebagai alumnus Akademi Teknologi Kulit (ATK) Yogyakarta. ”Waktu itu, saya berpikir kenapa kulitnya tidak disamak dan dimanfaatkan untuk bahan kerajinan,” tutur perempuan kelahiran Klaten, Jawa Tengah, itu di rumahnya di Dusun Dadapan, Timbulharjo, Sewon, Bantul, DI Yogyakarta, Kamis (2/7).

Pacarnya, Miftakhul Khoir, yang sekarang menjadi suaminya, juga sepikiran. ”Waktu itu kerajinan kulit hanya mengandalkan kulit sapi dan kulit kambing. Belum ada yang melirik kulit ikan pari,” ujarnya.

Menurut Dwi, dibandingkan kulit sapi dan kambing, mengolah kulit ikan pari jauh lebih sulit. Struktur butiran-butiran pada kulitnya membuat prosesnya lebih rumit.

Untuk mengolah kulit mentah ikan pari menjadi kulit kering setidaknya dibutuhkan waktu 15 hari. ”Namun, kulit ikan pari jauh lebih eksotik dan menarik karena terdapat butiran mutiara di bagian tengahnya,” ujar Dwi.

Meski prosesnya rumit, tahun 2002, Dwi memutuskan untuk menggeluti usaha penyamakan kulit ikan pari. Setelah lulus dari ATK tahun 2003, ia memperluas usahanya ke arah produksi berbahan baku kulit ikan pari.

Mulailah ia membuat dompet, ikan pinggang, dan tas. Dompet dijual seharga Rp 90.000-Rp 200.000 per unit, dan ikat pinggang Rp 150.000- Rp 450.000 per unit.

Sementara itu, harga tas sangat bergantung pada desainnya. Berkisar dari ukuran kecil Rp 250.000-Rp 300.000 per buah hingga Rp 500.000 per unit untuk ukuran besar. Dwi juga menerima pesanan pembuatan tas berbahan baku kulit ikan pari.

Jenis produknya terus bertambah dan saat ini sudah mulai merambah ke furnitur. Kulit ikan pari dipakai untuk melapisi mebel sehingga terlihat lebih cantik. Untuk produk terakhir ini, Dwi tengah berusaha menjalin kerja sama dengan kalangan pengusaha mebel.

Kini dalam sebulan omzet usaha Dwi bisa mencapai Rp 15 juta-Rp 20 juta dengan marjin sekitar 30-40 persen. Produknya dijual ke sejumlah kota, seperti Jakarta, Denpasar (Bali), dan Medan (Sumatera Utara). Bersama suaminya ia terus memasarkan produknya melalui pedagang-pedagang besar. Untuk memantapkan kegiatan promosi, ia tengah membangun ruang pamer sederhana di sebelah rumahnya di Bantul, DIY. ”Sebenarnya kami sudah memiliki stan di Pasar Seni Gabusan Bantul, tetapi karena jam operasinya pendek hasilnya kurang maksimal. Dengan showroom sendiri, harapannya, penjualannya bisa ditingkatkan,” katanya.

Meski awal perkenalannya dengan kulit ikan pari terjadi di Cilacap, Dwi sekarang beralih ke ikan pari daerah pesisir utara Jawa. Menurut dia, ikan pari Cilacap kulitnya agak lembek sehingga kurang bagus jika diolah menjadi produk kerajinan.

Empat jenis kulit

Ada empat jenis kulit ikan pari. Jenis gitar dibeli seharga Rp 10.000 untuk ukuran 13 cm, jenis oval untuk ukuran 13 cm Rp 8.000, jenis batu halus Rp 5.000-Rp 10.000 untuk ukuran 2,5 cm, dan jenis pari duri Rp 30.000 untuk ukuran 15 cm.

”Jenis duri memang paling mahal karena stoknya langka. Tekstur kulitnya juga lebih unik karena guratan duri di bagian tengahnya,” ujar Dwi.

Agar pasokan bahan kulit tidak tersendat, Dwi selalu membuat stok dalam jumlah besar, terutama pada saat kondisi air laut surut. Pada saat laut pasang, stok ikan pari biasanya menyusut. ”Stok itu lalu diawetkan dan bisa tahan selama satu bulan,” ujar perajin yang saat ini mempekerjakan sembilan tenaga kerja.

Proses produksi dimulai dengan membuat pola pada kulit ikan pari yang sudah kering, lalu memotongnya. Sebelum dijahit terlebih dahulu, kulit digerinda dulu untuk menghaluskan butiran-butiran yang melekat pada garis jahitan. Kalau tidak digerinda, proses penjahitan tidak bisa presisi, tak rapi. Untuk pewarnaan, ia memanfaatkan bahan cat mobil.

Keterampilan sebagai penyamak juga dimanfaatkan Dwi dengan membuka jasa penyamakan untuk kulit apa saja di rumahnya. Untuk jenis ular piton, misalnya, ia mematok tarif Rp 35.000 per meter, sedangkan ular sanca Rp 30.000 per ekor. ”Karakter kulit ular piton agak rumit,” ujarnya.

Meski segmen pasarnya lebih mengarah ke kalangan menengah ke atas, Dwi tetap yakin usahanya akan berkembang pesat. Salah satu kuncinya adalah kegigihan untuk terus berinovasi dan berpromosi.





BERIKAN KOMENTAR
nama
email
lokasi
komentar
DAFTAR KOMENTAR

  dias agus dari bali, berkomentar: " halo, saya minta alamat atau telp atau email pak dwi. saya bergerak dibidang furniture, dan ada beberapa produk yang pakai kulit ikan pari. mohon infonya. trims dias ", pada 2010-06-30 08:53:37 WIB
otty dari Jakarta, berkomentar: " Mas Khoir dan mbak Dwi, saya buyer untuk produk tas dan dompet, mohon email saya utk menindaklanjuti bagaimana cara memesan. terimakasih ", pada 2010-05-15 11:31:50 WIB
Supriyadi dari Jepara, berkomentar: " Mas Khoir dan mbak Dwi,Saya tertarik dengan kerajinan kulit ikan Pari,Bisakah berbagi Ilmu dan berbisnis dengan kami.? ", pada 2010-03-17 10:19:30 WIB
suhartatik dari japan, berkomentar: " saya buyer,ingin mendapatkan kulit ikan pari dari Ibu Dwi,mohon mail ke saya. ", pada 2010-02-23 13:08:18 WIB
Sukron Imron dari Cilacap, berkomentar: " Saya berkeinginan untuk mensuplai kulit ikan Pari, hubungi email saya ", pada 2010-02-10 21:03:33 WIB
taufiq dari yogyakarta, berkomentar: " Bagus...bagus. Sebagai mahasiswa angkatan "00" saya turut senang dan salut sama mas khoir dan mbak dwi. Siapa lagi yang ingin menjadi wirausahawan ?????????? ", pada 2010-01-02 07:01:00 WIB
Noval dari jogja, berkomentar: " bisakah saya mendapatkan alamat/bo telp bu dwi. karena saya tertarik kerajinan kulit ikan pariny, trims ", pada 2009-11-30 08:19:39 WIB
tj dari amsterdam, berkomentar: " Bisakah saya mendapatkan alamat ibu dwi ini karena saya tertarik untuk menjual product dari indonesia. Thanks ", pada 2009-11-04 02:22:25 WIB
ari dari Bekasi - Jawa Barat, berkomentar: " Saya Tertarik dengan usaha Kerajinan Kulit Ikan Pari. Kalo bisa saya minta No Tlp yang bisa dihubungi orang / produsennya ( Ibu, Dwi tersebut ) terima kasih. tetapsemangat and sukses untuk kerajinan Indonesia ", pada 2009-10-24 06:43:58 WIB
agung prasetyo dari krapyak wetan jogjakarta., berkomentar: " saya sangat tertarik dengan usaha kulit ikan pari, mungkin bisa minta penjelasan tentang kulit ikan pari yang ada di daerah sumatera, berkualitaskah? trimakasih ", pada 2009-10-03 13:46:56 WIB
danang-chetol dari jakarta, berkomentar: " suami istri dua2nya kenal baik..sukses buat khoir dan dwi..minta izin bu rofi artikel ini mau saya masukkan di grup IKATEK untuk memotivasi rekan2 IKATEK ", pada 2009-08-29 11:01:25 WIB
suci trubus dari jakarta, berkomentar: " mas Mifthahul Khoir sy minta no hp sy kehilangan kartu nama Anda. sy mau bicarain ttg kunjungan bln okt. trm ksh ", pada 2009-08-24 06:59:45 WIB
Budi Santoso dari semarang, berkomentar: " Saya tertarik dengan produk anda, bisa diinfo alamatnya? Trimakasih. ", pada 2009-08-07 10:35:07 WIB
ANDRI SUSANDI dari tangerang, berkomentar: " emang khoir ini orangnya pantang menyerah, dedicate dll, waktu dl trial di lab :D ... semangat trus yo.. jenggot find friends ATK'00 ", pada 2009-08-07 06:43:50 WIB
kiply.. dari surabaia, berkomentar: " enterpreneursip yang perlu ditiru.. salut kang... doakan saja bisa mengikuti jejak perjuanganya.. segan... ", pada 2009-07-28 11:23:00 WIB
Ruthika dari Surabaya, berkomentar: " Salut buat Dwi yg bisa mendapatkan ide seperti itu. nggak mudah untuk menjadi seorang pengusaha yg sukses.. Semoga Dwi dpt ide2 kreatif yg lainnya lagi, sehingga dpt menciptakan lapangan pekerjaan yg lebih byk lg... Sukses selalu.. ", pada 2009-07-20 19:16:53 WIB
rap dari perz,ina, berkomentar: " selamat petang dunia, i was open my eyes....wah keerennn, paling g bisa menimbulkan rasa enterpreneur bagi temen2 yang mau lulus ni, kaya aku disini, hahaha...not they who be on forever, but we (student of ALT) to prove right now!!!!hopeffuly i and u must do it...pengalaman magang aj...sudah merasa perih, kenapa rakyat pribumi yang dijadikan kambing hitam dan dicaci maki,,,padahal ini tempat kita, guys!!!!! ", pada 2009-07-19 13:51:32 WIB
anwar dari yogyakarta, berkomentar: " Yup...betul tuh pak. Mbak Dwi dan Mas Khoir emang sejak awal berusaha untuk membangun usaha sendiri, walau sempat sejenak melanglangbuana kerja di perusahaan orang. Tapi emang jiwanya lebih ingin merdeka (tidak hanya phisycly tapi juga Financially). Ayo bangun kewirausahaan kampus sejak dini di ATK. ", pada 2009-07-11 08:15:13 WIB
dono dari klaten, berkomentar: " ternyata lulus tidak hanya mencari pekerjaan tapi malah bisa membuka lapangan kerja...TOP BGT dah... ", pada 2009-07-11 08:10:38 WIB
mahesa dari Indonesia, berkomentar: " inspirational story.... bahwa ternyata segala material alam yang ada di dunia ini bisa kita manfaatkan. Dan hanya dengan semangat kewirausahaan yg kuatlah kita bisa menjadi manusia sukses dan secara implisit turut membangun dunia industri Indonesia yang selalu terjebak untuk mencari investor asing. ", pada 2009-07-11 08:06:08 WIB

Copyright 2004 - 2010 .:: Akademi Teknologi Kulit (ATK) Yogyakarta ::.

» home | catatan | kontak
» developed by : jackmedia                                                                                                                                            kembali ke atas